BANJARUPDATE.COM, TANBU – Sempat terhenti, pembangunan jembatan penghubung Pulau Laut Kotabaru-Batulicin kini kembali dilanjutkan.
DPRD Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) turun langsung memantau proyek strategis tersebut agar berjalan sesuai rencana dan tak kembali mangkrak.
DPRD Tanbu melakukan monitoring kelanjutan pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru dengan Batulicin, Tanbu, Kalimantan Selatan (Kalsel).
“Kami ingin memastikan pembangunan jembatan sesuai perencanaan, tepat waktu, dan memiliki kualitas yang baik,” kata Wakil Ketua DPRD Tanbu H Hasanuddin dikutip dari Antara, Selasa (13/1).
Ia menyebutkan, Pemkab Tanbu telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp100 miliar melalui APBD.
Anggaran tersebut difokuskan untuk mendukung pembangunan jembatan di wilayah Tanbu, termasuk proses pembebasan lahan.
“Pemerintah daerah bertanggung jawab penuh terhadap pembebasan lahan yang diperlukan untuk pembangunan jembatan di sisi Tanah Bumbu,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Tanbu M Ramdhan menjelaskan, pembangunan jembatan ditargetkan rampung pada 2028. Namun, terdapat kendala teknis di lapangan.
“Kendala utama adalah adanya batu keras di area pemasangan pondasi jembatan, sehingga pengerjaan tiang pancang memerlukan waktu cukup lama,” jelas Ramdhan.
Di sisi lain, Pemkab Kotabaru juga aktif mendorong percepatan pembangunan jembatan tersebut.
Bupati Kotabaru H Muhammad Rusli bersama Wakil Bupati H Syairi Mukhlis sebelumnya menggelar koordinasi dengan Kementerian Perhubungan RI di Jakarta.
Dalam pertemuan dengan jajaran Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub RI, Rusli menyampaikan pentingnya jembatan sebagai penghubung wilayah kepulauan dan daratan Kotabaru yang dipisahkan selat selebar sekitar 3,5 kilometer.
“Koordinasi ini untuk menyelesaikan permasalahan pembangunan serta mendorong peningkatan perekonomian daerah melalui infrastruktur dan sarana transportasi yang memadai,” kata Rusli.
Diketahui, jembatan penghubung Pulau Laut-Batulicin memiliki panjang sekitar 3,5 kilometer dengan estimasi anggaran Rp3,5 triliun.
Proyek tersebut sempat mangkrak dan kini kembali dilanjutkan sebagai salah satu infrastruktur strategis di Kalsel.






