GOW Kotabaru Perkuat Sinergi Organisasi Wanita

Banjar Update1660 Dilihat

BANJARUPDATE.COM, KOTABARU – Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Kotabaru menggelar pertemuan bulanan yang diisi dengan pembahasan pendidikan inklusi dan penguatan sinergi antarorganisasi perempuan, Rabu (17/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Ratu Intan itu dihadiri pengurus dan anggota organisasi wanita se-Kotabaru, termasuk jajaran organisasi Aisyiyah Kotabaru yang menjadi pelaksana kegiatan bulan ini.

Ketua GOW Kotabaru, Siti Hadijah, mengatakan pertemuan rutin tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi wadah memperkuat kolaborasi organisasi wanita dalam mendukung pembangunan daerah.

Ia mengapresiasi seluruh organisasi yang terus aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

“Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat sinergi organisasi wanita dalam mendukung pembangunan daerah,” ujarnya.

Pada pertemuan kali ini, peserta mendapatkan materi bertema “Pendidikan Inklusi: Hak Anak Tanggung Jawab Kita untuk Generasi Masa Depan yang Lebih Cerah”.

Menurut Siti Hadijah, pendidikan inklusi mengajarkan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak, aman, nyaman, dan berkualitas tanpa diskriminasi.

“Tugas kita sebagai orang tua, pendidik, organisasi perempuan, serta bagian dari masyarakat adalah memastikan tidak ada anak yang merasa terpinggirkan dalam memperoleh hak-haknya,” katanya.

Ia berharap materi yang disampaikan dapat menambah wawasan dan pemahaman peserta mengenai pentingnya pendidikan inklusi, sehingga dapat diterapkan dalam lingkungan keluarga, organisasi, maupun masyarakat.

“Dengan kolaborasi yang kuat, kita dapat menciptakan generasi masa depan yang lebih cerah, berkarakter, dan berdaya saing,” tambahnya.

Materi pendidikan inklusi disampaikan oleh Ustad Aspian Noor. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.

Menurutnya, pendidikan inklusi bukan hanya tentang menempatkan anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler, tetapi juga bagaimana menciptakan sistem pendidikan yang membuat setiap anak merasa diterima, dihargai, dan mampu berkembang secara optimal. “Setiap anak berhak bersinar,” ujarnya.