Bijak Menilai Proyek Rujab Barut

Opini78 Dilihat

Tulisan terkait proyek rumah jabatan (rujab) Bupati dan Wakil Bupati Barito Utara (Barut) yang belakangan ramai dibahas publik sebaiknya disikapi secara utuh dan rasional.

Oleh: Mahyudin Abdul Gani

Masyarakat jangan hanya terpancing pada angka-angka besar yang dibingkai seolah menjadi simbol pemborosan tanpa memahami konteks teknis pembangunan pemerintahan.

Pembangunan pagar, gerbang, hingga ornamen rumah jabatan bukan sekadar membangun “pagar biasa”. Dalam proyek konstruksi pemerintah, pekerjaan tersebut umumnya mencakup penataan kawasan, sistem keamanan, drainase, akses kendaraan, landscape, hingga identitas daerah sebagai bagian dari aset resmi pemerintah.

Rumah jabatan kepala daerah juga bukan milik pribadi pejabat, melainkan fasilitas negara yang digunakan untuk kegiatan pemerintahan, menerima tamu resmi, hingga agenda protokoler daerah. Karena itu, pembangunan dan penataannya harus dilihat sebagai kebutuhan jangka panjang aset pemerintah daerah.

Membandingkan rehabilitasi bangunan tahun sebelumnya dengan pembangunan kawasan di tahun berbeda juga dinilai kurang tepat. Keduanya memiliki ruang lingkup pekerjaan dan spesifikasi yang berbeda sehingga tidak bisa disederhanakan menjadi narasi pemborosan anggaran.

Begitu pula terkait rencana pemasangan lift di rumah jabatan Bupati. Fasilitas tersebut dapat berkaitan dengan aspek aksesibilitas, kesehatan, keamanan, hingga kebutuhan tamu pemerintahan lintas usia dan pejabat daerah.

Perlu dipahami pula, seluruh rencana anggaran tetap melalui tahapan perencanaan, evaluasi, pengawasan, hingga mekanisme tender terbuka sesuai aturan yang berlaku. Artinya, penggunaan anggaran tetap berada dalam pengawasan publik dan lembaga terkait.

Kritik terhadap pemerintah tentu penting sebagai bentuk kontrol sosial. Namun kritik juga perlu disampaikan secara objektif dan berimbang, bukan sekadar membangun framing yang berpotensi memicu persepsi negatif di tengah masyarakat.

Sebagai masyarakat, sudah semestinya publik lebih cermat dalam menyikapi berbagai informasi dan membedakan mana kritik yang membangun, serta mana narasi yang cenderung menggiring opini tanpa penjelasan utuh.

*Penulis merupakan Direktur SPBU Perusda Batara Membangun dan pemerhati sosial kemasyarakatan Barut.