Ibu Atul Dakwah: Jejak Pengabdian, Pendidikan, dan Keteladanan Perempuan Banjar

Kajian Banjar23 Dilihat

Kisah tentang pendidikan, dakwah, dan pengabdian sering kali lahir dari perjalanan hidup yang sederhana, namun dijalani dengan keteguhan yang luar biasa. Hal itulah yang tergambar dalam sosok Hj. Mariatul Norhidayati Rahmah, yang akrab disapa “Ibu Atul Dakwah”.

Beliau dikenal sebagai dosen senior di Fakultas Dakwah UIN Antasari Banjarmasin, pengelola program studi, sekaligus Ketua Muslimat NU Provinsi Kalimantan Selatan. Namun lebih dari itu, Ibu Atul merupakan figur perempuan Banjar yang memadukan peran sebagai pendidik, ibu, aktivis sosial-keagamaan, dan pembina generasi muda dalam satu perjalanan pengabdian yang panjang serta penuh perjuangan.

Melalui pengalaman hidupnya, tampak bagaimana nilai-nilai keluarga, disiplin, pendidikan, dan pelayanan kepada masyarakat tumbuh menjadi fondasi yang membentuk karakter beliau. Dari rumah sederhana yang menjadi ruang pembinaan dai muda, hingga ruang-ruang kuliah tempat ia mendidik mahasiswa, Ibu Atul menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu hadir dalam hal-hal besar, tetapi sering kali tumbuh dari ketekunan menjalani tanggung jawab sehari-hari dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Rumah yang Menjadi Ruang Dakwah

Pada suatu pagi yang cerah di Banjarmasin, Tim Khazanah Ulama Banjar berkunjung ke rumah beliau di kawasan Jalan Bumi Mas Raya, Komplek Bumi Jaya, Pemurus Baru. Rumah itu tampak sederhana, tetapi menyimpan denyut aktivitas dakwah yang begitu hidup.

Bagi Ibu Atul, rumah bukan sekadar tempat tinggal. Rumah adalah ruang pembinaan, tempat lahirnya generasi dai dan daiyah muda. Hampir setiap malam, rumah tersebut dipenuhi kegiatan pelatihan, majelis taklim, dan diskusi mahasiswa Fakultas Dakwah.

Beliau menjelaskan bahwa rumahnya menjadi tempat pelatihan dai-dai muda sekaligus sekretariat Pengurus Wilayah Muslimat NU Kalimantan Selatan. Di sanalah semangat dakwah tumbuh melalui pendidikan, pembinaan, dan pengabdian masyarakat.

Perjalanan dari Kampung ke Dunia Akademik

Perjalanan hidup Ibu Atul tidak dimulai dari kemudahan. Ia berasal dari sebuah kampung kecil di Hulu Sungai Utara, tepatnya di Tangga Ulin. Masa kecilnya diwarnai kehilangan ketika sang ayah wafat saat ia masih duduk di sekolah dasar. Kondisi itu membuatnya harus berpindah-pindah tempat mengikuti keluarga hingga pernah tinggal di Kalimantan Tengah sebelum kembali ke Amuntai.

Dari perjalanan yang penuh keterbatasan itulah tumbuh tekad untuk terus belajar. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Fakultas Dakwah dan pada akhirnya justru mengabdi di tempat yang sama sebagai dosen.

Pengabdiannya di dunia akademik telah berlangsung lebih dari dua dekade. Dalam perjalanannya, ia pernah memimpin beberapa jurusan hingga dipercaya memimpin Program Studi Teknologi Informasi di lingkungan Fakultas Dakwah.

Menikah di Tengah Kesulitan Ekonomi

Salah satu bagian paling menarik dari kisah hidup Ibu Atul adalah perjuangannya saat kuliah. Ketika kondisi ekonomi keluarga sangat sulit, ia mengambil keputusan besar: menikah pada semester tiga.

Keputusan itu bukan akhir dari pendidikan, melainkan awal dari perjuangan yang lebih besar. Di tengah keterbatasan, ia tetap melanjutkan kuliah bahkan mengambil studi tambahan di Fakultas Hukum pada sore hari.

Menurut beliau, langkah itu dilakukan karena ia ingin memiliki bekal yang kuat untuk masa depan. Ia percaya bahwa perempuan harus cerdas dan mandiri. Perpaduan ilmu agama dan ilmu kenegaraan yang dipelajarinya kemudian membentuk cara pandangnya dalam berdakwah dan mendidik mahasiswa.

Ketika banyak teman seangkatannya berhenti kuliah karena persoalan ekonomi, ia memilih bertahan. Baginya, pendidikan adalah jalan untuk mengubah keadaan.

Menjadi Ibu, Dosen, dan Pengelola Rumah Tangga

Perjuangan Ibu Atul semakin berat ketika ia melahirkan anak pertama pada semester empat. Di saat yang sama, ia tetap menjalani perkuliahan, bekerja, serta membantu mengelola rumah kursus bersama suaminya.

Semua itu dijalani dengan disiplin hidup yang telah dibentuk sejak kecil. Ia terbiasa bangun dini hari, bekerja membantu keluarga, dan tidak terbiasa menghabiskan waktu dengan tidur terlalu lama.

Dalam wawancara tersebut, beliau menyampaikan nasihat sederhana tetapi kuat kepada generasi muda: jangan terlalu banyak tidur dan biasakan menikmati pagi. Menurutnya, pagi hari menyimpan energi positif yang dapat membentuk semangat hidup seseorang.

Kebiasaan mengucapkan “pagi yang cerah” ketika bangun tidur adalah warisan kecil dari orang tuanya yang masih terus ia pegang hingga sekarang.

Nilai-Nilai Perempuan Banjar

Dalam banyak bagian wawancara, Ibu Atul menampilkan cara pandang khas perempuan Banjar yang memadukan ketangguhan dan kelembutan. Ia percaya perempuan harus maju, berpendidikan, dan memiliki daya tahan hidup yang kuat. Namun di saat yang sama, perempuan tetap perlu menjaga karakter lembut, etika, dan keharmonisan keluarga.

Beliau menekankan bahwa dalam budaya Banjar, penghormatan terhadap suami bukan bentuk perendahan perempuan, melainkan bagian dari keseimbangan peran dalam rumah tangga.

Bagi beliau, keluarga tetap menjadi prioritas utama. Pelayanan kecil dalam rumah tangga—seperti menyambut suami, menyiapkan makanan, atau memperhatikan kebutuhan keluarga—dipandang sebagai bentuk kasih sayang yang memperkuat ikatan emosional.

Pengalaman pribadinya menunjukkan bahwa perhatian sederhana justru sering menjadi alasan mengapa rumah terasa lebih bermakna dibanding dunia luar.

Pendidikan Anak Dimulai Sejak Dalam Kandungan

Percakapan kemudian bergerak pada tema pendidikan anak. Bagi Ibu Atul, pendidikan keluarga bukan sekadar soal menyediakan waktu yang banyak, melainkan bagaimana menghadirkan kualitas kebersamaan.

Ia menekankan pentingnya komunikasi yang baik bahkan sejak anak masih berada dalam kandungan. Menurutnya, anak yang belum lahir sudah mulai mendengar apa yang diucapkan oleh orang tuanya.

Karena itu, ia membiasakan menyampaikan kalimat-kalimat penuh syukur kepada anak-anaknya sejak masa kehamilan. Hal-hal sederhana seperti rasa bahagia karena bisa memasak ikan pupuyu atau menikmati makanan seadanya dijadikan sarana pendidikan tentang syukur dan penerimaan hidup.

Dalam pandangannya, anak perlu dibesarkan dengan kesadaran bahwa kehidupan tidak selalu mudah. Mereka harus belajar memahami perjuangan, menghargai proses, dan peduli terhadap keluarga yang sedang mengalami kesulitan.

Ia juga sering menceritakan masa mudanya kepada anak-anak: berjalan kaki ke kampus, menabung sedikit demi sedikit, hingga akhirnya mampu membeli kendaraan secara bertahap. Semua cerita itu dimaksudkan agar anak-anak memahami bahwa keberhasilan lahir dari proses panjang, bukan kenyamanan instan.

Berbagi sebagai Cara Menjaga Kehidupan

Salah satu pesan terkuat dari wawancara tersebut adalah pentingnya berbagi. Menurut Ibu Atul, berbagi tidak selalu berbentuk uang. Berbagi bisa berupa perhatian, ilmu, kebahagiaan, atau sekadar menjadi tempat orang lain bercerita.

Nilai itulah yang membuat hubungan sosial tetap hidup. Dalam kehidupan masyarakat Banjar yang penuh tradisi kekeluargaan, sikap saling membantu dan saling mendengar menjadi perekat penting yang tidak boleh hilang.

Di akhir wawancara, beliau kembali mengingatkan pentingnya mengelola waktu dengan baik. Ia percaya bahwa hidup akan lebih bermanfaat jika seseorang tidak terlalu larut dalam kenyamanan dan kemalasan.

Keteladanan yang Tumbuh dari Kesederhanaan

Kisah hidup Ibu Atul menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu lahir dari hal-hal besar. Ia justru tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan dengan konsisten: disiplin bangun pagi, tetap belajar dalam keterbatasan, melayani keluarga dengan tulus, mendidik anak dengan penuh syukur, dan membuka rumah sebagai ruang dakwah.

Melalui perjalanan hidupnya, kita melihat bagaimana nilai-nilai ulama Banjar tetap hidup dalam sosok perempuan masa kini. Pendidikan, dakwah, keluarga, dan pengabdian tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan.

Pada akhirnya, sosok Ibu Atul mengingatkan bahwa masa depan tidak hanya dibangun oleh ilmu pengetahuan, tetapi juga oleh keteladanan. Dari ruang kuliah hingga dapur rumah, dari organisasi hingga pendidikan anak, semua menjadi bagian dari jalan panjang pengabdian yang dijalani dengan hati.

Ahmad Muhajir, PhD. Foto: dok.pribadi
Penulis: Dr. Ahmad Muhajir, MA

Tinggalkan Balasan