BANJARUPDATE.COM, BANJARMASIN – Krisis peminat sekolah negeri kembali menghantui dunia pendidikan di Kota Banjarmasin. Pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027, puluhan SD dan SMP negeri gagal memenuhi kuota.
Bahkan, ada sekolah dasar yang hanya memperoleh satu calon murid hingga penutupan pendaftaran online. Kondisi ini memaksa Dinas Pendidikan membuka kembali pendaftaran secara offline demi menyelamatkan kuota yang kosong.
Data yang dihimpun menunjukkan sedikitnya 20 SMP Negeri di Kota Banjarmasin masih kekurangan peserta didik baru setelah pendaftaran online resmi ditutup. Sekolah-sekolah tersebut di antaranya SMPN 10, SMPN 12, SMPN 13, SMPN 14, SMPN 16, SMPN 17, SMPN 18, SMPN 20, SMPN 21, SMPN 22, SMPN 23, SMPN 25, SMPN 26, SMPN 27, SMPN 28, SMPN 29, SMPN 32, SMPN 33, SMPN 34, dan SMPN 35.
Melihat banyaknya kursi yang masih kosong, Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin terpaksa membuka kembali pendaftaran secara offline hingga awal Juli. Langkah ini diambil agar kuota siswa baru dapat terpenuhi sebelum tahun ajaran dimulai.
Fenomena tersebut bukanlah kejadian baru. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah sekolah negeri di Banjarmasin terus mengalami kesulitan mendapatkan peserta didik baru.
Di SMPN 23 Banjarmasin, misalnya, masih terdapat 27 kursi kosong dari total kuota 224 siswa yang disiapkan untuk tujuh rombongan belajar.
“Sampai hari terakhir pendaftaran online masih kurang 27 siswa lagi dari total kuota. Biasanya sekolah tetap membuka pendaftaran hingga Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berlangsung,” ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 23 Banjarmasin, Sisti Salmiati.
Situasi yang lebih memprihatinkan terjadi di SMPN 10 Banjarmasin. Sekolah tersebut masih kekurangan 87 siswa dari total kuota 193 peserta didik.
“Di tempat kami masih kekurangan. Sehingga kembali membuka pendaftaran,” kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 10 Banjarmasin, Apriansyah.
Kondisi serupa juga terjadi di jenjang sekolah dasar. Bahkan, ada sekolah yang nyaris tidak memiliki murid baru.
SDN Teluk Dalam 10 Banjarmasin menjadi contoh paling mencolok. Hingga penutupan SPMB pada 27 Juni 2026, sekolah itu hanya menerima satu pendaftar melalui jalur domisili, padahal tersedia kuota 28 siswa untuk satu rombongan belajar.
“Baru satu pendaftar, dan pendaftaran siswa baru kami perpanjang secara offline. Padahal kami siapkan kuota 28 siswa baru untuk satu rombongan belajar,” ungkap Pelaksana Tugas Kepala SDN Teluk Dalam 10 Banjarmasin, Arif Rahman Hakim.
Pengawas Gugus Mulawarman Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Rasmila, mengakui sebagian besar sekolah di wilayah pengawasannya menghadapi persoalan yang sama. Menurutnya, ada sejumlah faktor penyebab, mulai dari lokasi sekolah yang berdekatan, menurunnya jumlah anak usia sekolah, hingga masih minimnya pemahaman masyarakat terhadap mekanisme SPMB berbasis online.
“Masih ada orang tua yang belum memahami mekanisme SPMB. Akibatnya ada jalur yang kelebihan pendaftar, sementara di jalur lain justru kosong sehingga kuota sekolah tidak terpenuhi,” jelasnya.
Fenomena ini menjadi sinyal bahwa persoalan kekurangan murid di sekolah negeri belum juga terselesaikan. Sebelumnya, pada pelaksanaan penerimaan siswa tahun 2025, tercatat 117 SD Negeri di bawah Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin mengalami kekurangan murid baru, bahkan sebagian sekolah hampir tidak memperoleh pendaftar.
Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp terkait kondisi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Ryan Utama, hanya memberikan jawaban singkat, “Nah.”
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai efektivitas pemerataan pendidikan dan strategi pemerintah dalam menjaga keberlangsungan sekolah-sekolah negeri yang terus kehilangan peminat dari tahun ke tahun.
Penulis :El Muhammad










